Terimakasih PSP3

PSP3 tunjukan dirimu
Jiwa korsa semangat didada
Disiplin dan berani
PSP3 tetap jaya selamanya”

image

Sangat terasa sekali satu tahun hampir berlalu seiring berakhirnya masa pengabdian kita ini sebagai seorang Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan. Masing-masing dari kita bisa menengok kebelakang 10 bulan yang lalu, kemudian mencermati apa yang ada saat ini. Seberapa banyak perubahan yang dapat kalian temukan? Tentu perubahan selalu bermakna kearah yang lebih baik, bukan sebaliknya.   Apakah perubahan tersebut sudah sesuai dengan indikator keberhasilan PSP3?
Setahu saya ada dua indikator keberhasilan dari peserta program PSP3 ini. Pertama adalah berkembangnya kemampuan peserta PSP3. Selain berrarti menjadikan peserta mandiri dengan usaha yang dirintisnya , indikator pertama ini juga memiliki maksud berkembangnya kemampuan personal dalam diri peserta PSP3 dibidang entrepreneur termasuk didalamnya adalah terwujudnya mental wirausaha, jiwa wirausaha, cara pandang wirausaha dan  wawasan wirausaha. Termasuk  juga kemampuan interpersonil seperti membangun komunikasi, membangun relasi dan resolusi konflik. Indikator keberhasilan yang kedua yaitu mempunyai hasil di masyarakat. Kegiatan usaha yang dirintis oleh peserta PSP3 dapat memiliki pengaruh dimasyarakat. Baik pengaruh secara langsung dan tidak langsung. Pengaruh secara langsung adalah adanya masyarakat yang terilbat dalam program usaha rintisan , sehingga memperoleh penghasilan dari kegiatan usaha peserta PSP3. Sedangkan pengaruh tidak langsung adalah dimana kegiatan usaha PSP3 menjadi pelopor untuk munculnya kegiatan usha serupa di masyarakat, menimbulkan efek domino.
Paling tidak dua hal diatas bisa menjadi bahan untuk merefleksikan perjalanan kita selama hampir satu tahun ini.
Beberapa informasi kuat menyebutkan akan berakhirnya program PSP3 ini, yang berarti juga angkatan 25 adalah anak bungsu dari PSP3 yang sudah berlangsung selama ini. Memang saya sendiri mengakui banyaknya kekurangan dalam program ini. Namun menurut saya pribadi kekurangan yang ada dalam program ini sebatas kekurangan dalam hal teknis pengelolaan program. Secara konsep dan teori  program PSP3 merupakan terobosan yang luar biasa atas permasalahan perekonomian di negara ini. Konsep program PSP3 selalu berubah-ubah setiap angkatannya seperti sedang mencari bentuk konsep yang ideal bagi PSP3, namun apakah Satker di tiap-tiap daerah paham akan perubahan konsep PSP3 yang terjadi pada setiap angkatan. Saya pribadi agak cenderung meragukan adanya kesatuan pemahaman antara Pusat dan daerah. Masih banyak lagi bentuk kekurangan dalam hal pengelolaan teknis kegiatan PSP3. 
Jika ada pihak yang menganggap program PSP-3 ini gagal dan hanya menghabiskan anggaran terbesar di Kementrian maka saya adalah salah satu orang yang akan berdiri di barisan yang mengatakan “ tidak!!”, “PSP3 tidak gagal dan bukan program yang sia-sia”. Subjek pembangunan di program PSP-3 adalah peserta PSP3 sendiri  bukanlah masyarakat . Ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lebih tepat diurus oleh kementrian lain yang lebih berwenang dan mempunyai kapabilitas. Jika ada pihak yang menganggap kegagalan PSP-3 maka perlu dipertanyakan kapabilitasnya dan sudut pandangnya.
Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan rekan-rekan PSP3 yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Saya bertemu Mas Imam dan sempat berbincang panjang lebar terkait program PSP3 , beliau angkatan 24 dan berasal dari Pontianak. Hampir semalaman kami berdiskusi dan bercerita tentang pengalaman kami di program pemberdayaan ini. Kamipun menyepakati bahwa program ini memberikan dampak yang luar biasa bagi pengembangan kepribadian kami. Bagaimana kami hidup di masyarakat, mengetahui struktur sosial, struktur pemerintahan juga adat istiadat daerah.  Andaikan tidak ada program ini mungkin kami tidak bisa belajar banyak hal di msayarakat yang selama ini tidak kami dapatkan.
Saya juga semakin yakin dengan keberhasilan program ini saat rekan saya yang berasal dari Maluku bercerita tentang pengalamannya. Rekan saya menceritakan dengan penuh perasaan yang meledak-ledak sambil terlihat menahan air matanya. Dia bercerita bagaimana pengalaman yang luar biasa dia dapatkan dari program PSP3. Pengalaman pertama kali melihat sawah, padi kemudian menjadi nasi. Ya bukankah Maluku adalah perairan yang di beri pulau? Sehingga konsep sawah dan padi hanya dalam teori dan imaji. Dengan emosionalnya dia bercerita bagaimana dulu sifatnya manja dan saat PSP3 apa-apa harus diurus sendiri. “ Di sini saya apa-apa urus sendiri, sakit sendiri, naik motor sendiri, pergi ke rumah sakit sendiri, pasang infus sendiri , suntik-suntik sendiri (tetap yang meng infus dan menyuntik adalah dokter), pokoknya saya urus sendiri semua” dengan logat khasnya. Poin penting yang saya temukan adalah program ini memberikan pengalaman subyektif kepada masing-masing peserta program. Pengalaman-pengalaman subyektif inilah aspek besar yang mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. sedangkan yang dibutuhkan negara ini adalah pembangunan dibidang sumber daya manusia bukan hal-hal praktis dan instan.
Saya dan banyak rekan rekan masih berharap program ini berlanjut. Walaupun akan ada program pengganti namun saya rasa akan jauh berbeda dari segi konsep dan mekanismenya. Saya juga berharap jika program ini dihentikan memang benar murni karena alasan ideologis bukan alasan politis. Saya beserta ratusan bahkan ribuan rekan-rekan seperjuangan mengucapakan terimakasih atas program PSP3 selama ini. Sekali lagi “ Terimakasih PSP3”.
(sepertiga malam di Sahid Hotel Yogyakarta)

Iklan

Merajut Asa Gen H (Generasi Harapan)

image

Nyala lampu yang temaram menemaniku duduk dipojok teras rumah pada sembilan malam. Masih berpikir keras aku bagaimana harus diperbuat di hari-hari mendatang. Semangatku sesungguhnya menyala kuat, inginku berteriak namun sama saja , teriakanku ibarat Burung Kedasih yang tak bersahutan. Kedasih yang bernyanyi sendiri di kesunyian malam. Tepat seperti memekik pada kekosongan. 

Yah , diri ini sedang dalam titik jenuh yang tak berkesudahan. Mungkin ini yang sering diwanti-wanti oleh baginda Rosullullah bahwa perang yang lebih besar dari Perang badar adalah peperangan melawan hawa nafsu. Yang tak lain adalah perang melawan diri sendiri. Namun barang siapa berhasil mengalahkan diri sendiri dia akan menjelama melibihi dewa-dewa yang ada di langit sana. Aku belum termasuk orang yang sekuat itu. Diri ini terlalu lemah, sedikit kekurangan protes, tidak begitu cocok protes, mendapat cobaan mengeluh dan tidak mau terlalu berpeluh.

Padahal umurku  tidak kanak-kanak lagi. Memang benar bahwa menjadi dewasa adalah pilihan bukan kepastian. Beberapa waktu lalu aku membaca beberapa buku sejarah. Orang-orang dalam sejarah itu membuat perubahan tepat pada usia seperti aku.  Sebut saja Soekarno yang pada usia 20 an telah mendirikan Partai, Tirto Adi Suryo yang pertama meletakan batu pondasi nasionalisme juga berkiprah pada usia 20 an, Dokter Sutomo juga pada usia 20 an mendirikan Budi Utomo bersama rekan-rekannya. Ah betapa aku mengagumi mereka, tentu pada saat ini keadaan zaman lebih sulit berkali lipat dari saat ini.

Aku mencoba bandingkan usia 20 an yang ada di zaman ini. Mereka generasi 90 yang semula begitu ambisius akan perubahan, kini apa yang mereka lakukan? apa yang mereka kerjakan saat ini?  lebih banyak kulihat mereka upload foto selfi daripada menulis esai. Lebih mereka sukai tempat-tempat berlibur daripada berkerja lembur.

Smartphone di sebelah cangkir kopiku berbunyi pertanda ada pesan masuk. Dari nadanya langsung ku ketahui bahwa itu pesan WA. Ku ambil smarttphone barangkali penting, ternyata hanya obrolan yang tak berisi,  jauh dari penting. Pesan pertama adalah tulisan hasil dari copas yang tidak jelas sumber dan kebenaranya. Selanjutnya adalah tanggapan-tanggapan konyol atas Repost tersebut. Kemudian disusul dengan gambar-gambar yang disertai tulisan yang biasa disebut meme.

“aih hobi benar mereka ini untuk tertawa” gumamku sedikit kesal.
“ apa Cuma itu kemampuan mereka yang merupakan generasi muda Indonesia Raya?

Tapi aku juga tak menyalahkan mereka , aku juga tidak jauh berbeda dari mereka. Saat ini aku sendiri juga kebingungan untuk berbuat. Atau memang tidak ada yang bisa aku perbuat.

“ ah , entahlah”

benar-benar hanya kejenuhan yang aku rasa. Sampai aku sendiri jenuh dengan kejenuhan itu sendiri.   “harus berakhir!” seruku.
Dan kuputuskan untuk berbuat malam ini. Berbuat hal kecil malam ini lebih baik daripada berangan-angan besar. Lebih baik telor hari ini daripada menunggu ayam esok hari.

Aku ambil selembar HVS kosong dan pulpen. Aku merasakan suatu kebebasan yang luar biasa saat mulai menulis HVS kosong dengan sesuka hati. Aku bebas menulis apapun yang ada dikepalaku. Lewat pulpen tinta hitam aku tumpahkan semua yang ada dikepala,  beberapa kutulis point-poin terkait yang harus dilakukan. Beberapa aku coret karena kembali aku anggap kurang tepat, ku ganti dengan ide baru. Tiga kata dasar yang melandasi konsepku ini adalah Kemandirian, Pendampingan dan Pemberdayaan.

Aku raih kembali smartphone yang berada disampingku, beberapa teman aku Japri melalui WA untuk mengatur waktu bertemu  mencurahkan kegelisahan dan menawarkan konsepku. Setitik asa kembali muncul. Barangkali diantara mereka ada yang sepemahaman denganku. Setidaknya aku telah mencoba hal kecil ini. Ku kirim pesan itu pada teman-temanku yang aku yakini dapat kuandalkan. Menurutku mereka mempunyai kemampuan yang aku sendiri tidak punya. “Mereka bisa diharapkan” pikirku.

Aku yakin kalian tidak lelah untuk tetap berharap. Ada yang mengatakan “ orang bisa bertahan hidup 2 minggu tanpa makan dan minum, namun tanpa harapan orang tidak akan bisa bertahan hidup selama satu detik”. Harapan demi harapan yang bertemu akan menjadi sebuah untaian harapan. Apabila untaian demi untaian harapan dikumpulkan lalu dirajut disulam menjadi satu jadilah sebuah harapan kolektif. Harapan kolektif inilah yang akan menjadi suatu kekuatan yang dahsyat. Mampu menggerakan tiap-tiap individu didalamnya untuk mencapai harapan tersebut.

Pesan sudah kukirim namun pesan balasan tak kunjung ada. sampai larut malam aku menunggu pesan balasan, namun sama saja nihil.
“Apakah aku Kembali menjadi burung Kedasih yang tak bersahut?”
Asaku tidak boleh padam sampai disini. Hal kecil yang baru kumulai jangan sampai pupus secepat ini. Masih ada hari esok untuk berharap. Kembali aku berharap, betapa indah nikmat berharap. Sambil menutup mata aku berharap,  semoga esok saat mentari terbit disambut oleh burung Kedasih yang saling bersahut-sahutan.

Catatan Pelatihan Kerajinan Anyaman Bambu Warga Kemiriombo

image

Pring iku suket, ning omah asale seko pring
Usuk seko pring, cagak e seko pring
Gedhek iku pring, lincak uga pring
Kephang cetha pring, tampare yo mung pring
Kalo, tampah, serok asale sako pring
Pikulan, tepas, tenggok digawe nganggo pring
Mangan enak, mancing iwak, walesane ya pring
Jangan bung, aku gandrung, jebule bakal pring
Nek ngono pancen penting, kabeh sing nang nggon wit pring
…………………………………………..
(Rotra, Ngelmu Pring)

Lirik lagu diatas menunjukan betapa bambu atau pring memiliki manfaat dan kegunaan yang banyak. Bambu merupakan bahan yang mudah diolah untuk menjadi peralatan atau barang yang kita gunakan dalam keperluan tiap hari. Bambu sendiri merupakan tanaman yang memiliki kayu yang beruas.
Salah satu potensi yang ada di Pedukuhan Kemiriombo adalah banyak tumbuh pohon bambu. Bambu tumbuh di pinggiran sungai, diatas tebing dan di sekitar pekarangan. Bebrapa warga sudah memanbaatkan potensi bambu ini untuk diolah menjadi kerajinan tangan seperti Besek, Eblek dan Kuda Lumping atau Jaran Kepang. Mereka membuat kerajinan itu sekedar berdasarkan pesanan yang ada, belum memproduksi secara rutin atau intens. Kemudian muncul dalam benak saya supaya potensi bambu mampu menjadi penghasilan tambahan bagi warga. Untuk itu perlunya diadakan pelatihan anyaman bambu untuk meningkatkan kemampuan tau ketrampilan  warga dalam mengolah bambu menjadi suatu kerajinan.
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari memberikan kesan yang luar biasa bagi saya. Saya berani mengatakan denga lantang bahwa “ Masyarakat Desa Tidaklah Bodoh”, sebaliknya mereka memiliki dan  menyimpan kemampuan-kemampuan yang luar biasa. Hanya saja mereka kurang di fasilitasdi dan tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.

image

Satu
Hari pertama pelatihan saya sedikit terkejut ketika saya datang di lokasi pelatihan, ternyata peserta pelatihan sudah berkumpul. Lokasi pelatihan yang berada di rumah salah satu warga memang tidak jauh dari rumah para peserta. Namun untuk orang desa pergi jam 08.30 artinya mereka harus melakukan kebutuhan rumah terlebih dahulu seperti ke sawah, merumput dikebun dan keperluan lainnya. Maklum sebagian besar peserta adalah ibu-ibu. Sebagian aktifitas pagi hari ya jelas harus merumput ke kebun ataupun ke sawah untuk ternak mereka. Pada hari pertama ini jelas mereka harus ke kebun lebih awal supaya bisa datang dan mengikuti pelatihan.
Pada pelatihan kali ini peserta diajari mataeri anyaman dasar, yaitu membuat dua produk anyaman keranjang enthing-enthing dan keranjang gula atau kurma. Menakjubkan para peserta langsung menguasai teknik anyaman yang diajarkan dan mampu membuat dua produk dasar ini. sementara saya masih kesulitan menyesuaikan diri dengan kegiatan menganyam ini. Ya, maklumlah terbiasa menganyam bayang-bayang masa lalu (kangelan mop on).

image

Dua, tiga dan empat
Pelatihan pun berlangsung hari demi hari dan semakin lama peserta semakin menguasai banyak produk anyaman bambu. Satu hal yang membuat saya bangga adalah komentar dari pelatih anyaman bambu yang mengatakan  “ wah mas saya suka ini pesertanya pinter-pinter, baru empat hari tapi sudah bisa membuat produk macem-macem, biasanya kalau saya ngisi pelatihan itu seminggu bisa menguasai satu produk itu sudah lumayan mas”.  Sebenarnya saya pengen jawab “ Jelaslah Bu siapa dulu yang Ngadain pelatihan ? “ tetapi wedi ndak kualat maka jawabannya saya simpan dalam hati.

Komentar dari pelatih yang  seperti itu selalalu ada setiap harinya dengan redaksi yang berbeda-beda namun tetap satu makna. Hal ini yang memotivasi saya untuk terus mendorong dan mefasilitasi warga untuk kegiatan kerajinan anyaman bambu. Dengan penuh harapan mampu meningkatkan ekonomi warga masyarakat di perdesaan khusunya di Pedukuhan Kemiriombo.

image

Lima
Kemudian di hari ke lima , peserta masih memiliki antusias yang sama hebatnya seperti hari pertama dan hari-hari sebelumnya. Hal ini yang menjadikan lasan kuat saya untuk berangkat pagi-pagi dari Pengasih menuju Samigaluh dengan lama perjalanan satu jam dan dengan medan tempuh yang akrab dengan tanjakan, turunan, belokan dan ….. tikungan. Kalau mau saya jelaskan tikungan- tikungan jalan di Samigaluh lebih berbahaya dari tikungan temen sendiri (duh.. Salah fokus). Pokonya intinya itu.
Kemudian di hari kelima ini pelatih menawarkan langsung ingin mebeli produk-produk yang telah peserta buat selama pelatihan. “ ini produk sudah layak jual, nah ini langsung saya beli aja supaya tambah semangat untuk membuat produk terus” kira-kira begitulah. Kalau saya sebutkan produk-produk yang telah dikuasai adalah keranjang enthing-enthing, keranjang gula, keranjang telur, anyaman mata iro, anyaman teruntum, keranjang mangkok atau tempat buah, pincuk, besek kombinasi dan beberapa anyaman hasil pengembangan sendiri.

image

Di akhir sesi peserta terlihat masih antusisas, terlihat dari ketika acara ditutup masih saja mereka mendengarkan dan tangan asyik sibuk mengayam bambu. Bagi saya luar biasa sekali karena pelatihan ini berlangsung jauh melebihi dari harapan saya pribadi. Ini tentu karena para peserta yang kooperatif dan antusisas, pelatih yang apresiatif dengan sabar dan ulet mengajari peserta serta bantuan dari pihak pemerintah Desa dan pedukuhan yang selalu hadir setiap hari untuk sekedar “ngaruhke”.
Oh iya hampir lupa, selama pelatihan ini saya dibantu rekan-rekan seperjuangan yang datang untuk mengikuti pelatihan ini. Dan rekan-rekan yang lain yang secara tidak diundang telah memberanikan untuk hadir di pelatihan ini. Tentunya kehadiran kalian merupakan bantuan nonmaterrill yang sangat berharga, yang mampu menguatkan nafas perjuangan kita. Kehadiran kalian kedepannya akan sangat diharapkan (dengan bantuan materiil).

image

Harapan saya kedepan, bahwa kerajinanbambu di Kemiriombo semkain berkembang. Semakin banyak pengrajin anyaman bambu yang ada. sehingga potensi banyaknya bambu mampu dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi warga. prospek untuk menjadi sentra produksi anyman bambu juga terbuka lebar. Dengan potensi kesenian , budaya yang ada di kemiriombo ditambah lagi dengan kerajinan tentu akan menjadi nilai tambah dan unggul tersendiri bagi Kemiriombo. Terlebih lagi nantinya potensi tersebut dapat di sinkronkan dan dikembangkan menjadi satu kesatuan yang memiliki daya tarik tersendiri.
Mungkin apa yang saya ingin saya sampaikan sudah cukup tergambarkan dalam tulisan ini. Dan sekali lagi saya ingi mengucapkan satu kata untuk semuanya sehingga kegiatan pelatihan dapat berjalan dengan begitu luar biasa., “ terima kasih”.

Salam
Pemuda Sarjana menanti April.

Japrak Lutier Van Samigaluh (Maestro Biola Dari Bukit Menoreh)

japrak

Siapa sangka duga dan kira bahwa ada seorang maestro Biola yang tinggal di kawasan perbukitan menoreh. Jauh tentunya dari keramaian pusat kota Kabupaten Kulonprogo.Beliau tinggal di rumah sederhana di Dusun Jetis Desa Gerbosari yang masuk dalam wilayah adsminitratif Kecamatan Samigaluh. Pak Joko namanya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Japrak.

Pak Japrak lekas menekuni seni ukir kayu semenjak tahun 2000 an yang kemudian memfokuskan pada pembuatan alat musik Biola dan Gitar. Ketrampilan membuat Biola dan Gitar dimiliki oleh pak Japrak dengan otodidak atau belajar sendiri.Latar belakang pendidikan beliau adalah lulusan Sekolah Teknik (ST) setaraf SMP pada waktu zaman Belanda berkuasa.

Bagi pak Japrak membuat biola dan Gitar adalah pekerjaan yang melibatkan hati dan perasaan. Sebuah alat musik yang dibuatnya adalah karya , bukan hanya sekedar benda yang diperjual belikan. Hal itulah yang membuat Pak Japrak tidak dapat mentarget kapan sebuah pesanan Biola akan selesai dikerjakan. Bahkan ada pemesan yang rela menanti selama satu tahun untuk mendapatlan Biola karya Pak Japrak.Tentu ini hal yang luar biasa karena karya Pak Japrak Murni dari tangannya sendiri atau masih menggunakan cara manual.

Bagi yang tidak sabar menunggu bisa membeli langsung karya Biola ataupun Gitar Pak Japrak yang sudah jadi atau siap beli. Ada berbagai pilihan alat musik yang bisa dibeli dengan harga yang bervariasi. Seperti Biola dengan harga 800 ribu, Ukulele 250 ribu, Gitar 500 ribu tentunya harga sesuai dengan kualitas ( Rego Nggowo Rupo).

Walaupun tinggal di Desa yang jauh dari keramaian tak lantas membuat pesanan gitar pak Japrak menjadi sepi.Selalu saja ada yang memesan alat musik baik Biola, Gitar, Ukulele dan Kencrung pada Pak Japrak.Bahkan pesanan berasal dari luar negri seperti Jerman, Perancis dan Rusia.

Pak Japrak sering mendapatkan tawaran untuk keluar negeri untuk membuat Biola dan Gitar. Pernah juga mendapatkan tawaran untuk naturalisasi menjadi warga Jerman dengan jaminan hidup yang akan ditanggung dan terjamin. Hal ini karena di Jerman (luar negeri) sangat langka pengrajin Biola yang masih Handmake. Pembuatan Biola semuanya telah beralih menggunakan mesin.Pekerjaaan yang murni Handmake mendapatkan apresiasi yang luar biasa di Jerman. Lalu bagaimana dengan Negri kita?

Berkali-kali Pak Japrak ditawari untuk pindah keluar negri, namun sampai saat ini tidak ada satu tawaranpun yang beliau terima. Ketika saya bertanya “ kenapa tidak bersedia untuk tinggal di Luar negeri bukannya lebih enak?” dengan sedikit senyuman beliau menjawab “ ya , karena I Love Indonesia”. Jawaban beliau yang singkat bagi saya memiliki makna dan perjuangan yang luas dan tak terbatas. Bagimana tidak sekarang banyak anak muda yang bercita-cita untuk bekerja bahkan tinggal di luar negri namun beliau yang mendapatkan tawaran berkali-kali malah lebih memilih tinggal di sebuah desa yang sepi dengan kesederhanaanya.

Pak Japrak menuturkan hidup itu tidak harus berkecukupan harta namun yang utama adalah selaras dengan diri kita.“ saya lebih mencintai diri saya sebagai orang Jawa, budaya Jawa dan ajaran Jawa” begitu ungkap Pak Japrak.

Pria berusia 45 tahun ini bukan hanya piawai dalam membuat Biola namun juga ahli dalam memainkannya. Diujung obrolan santai kami beliau melantunkan lagu Bengawan Solo menggunakan Biola hasil karyanya. Alunan merdu Biola yang mendayu menyempurnakan susana siang hari di desa yang hijau dan sejuk semilir angin.

Saya yakin masih banyak orang seperti pak Japrak disekitar kita, dan kita harus menteladani rasa cinta tanah air dari pak Japrak. Terakhir saya mengajak untuk bersama kita mengapresisasi karya anak negeri dan produk-produk dalam negeri

Kunang-kunang Pusdik Bekang

12038087_978969588833209_7413232260143097880_n

“ kami Kemenpora berjiwa satria

Tidak pernah berkeluh kesah

Apapun rintangan tak jadi penghalang,

Maju pantang mundur, Demi kehormatan”

Sayup-sayup nyayian di atas selalu terdengar jika kami sedang melakukan pergerakan ataupun perpindahan tempat. Kami bernyayi dengan berlari atau berjalan penuh semangat kadang dengan langkah gontai kami tetap bernyanyi. Setidaknya ritual ini terjadi setiap harinya selama 14 hari kami menghabiskan waktu di Pusdik Bekang.

 

14 hari

waktu itu relatif, bisa menyempit dan melebar tanpa kita kehendaki. Kadang terasa begitu singkat namun terkadang begitu lama. Satu jam akan sangat terasa begitu lama bagi penunggu namun satu jam saja tidak cukup bagi dua insan yang sedang bersenang-senang. 14 hari adalah waktu yang singkat jika dibandingkan dengan umur kita saat ini, namun 14 hari akan terasa begitu luar biasa jika setiap harinya kita lalui dengan penuh makna.

Hari pertama terasa begitu lama, semakin aku menunggu malam semakin lambat pula waktu terasa berjalan.Setaiap gerakan yang kulihat nampak seperti “slow motion”. Dan betul pula hari pertama sangat lama padahal kuhitung masih berjumlah 24 jam.

Hari berikutnya tanpa kusadar waktu berlalu, dari 24 jam ke 24 jam berikutnya. Hingga sampailah di penguhujung hari ke-14, kini yang kurasa waktu berjalan begitu cepat.Seakan waktu berjalan seperti deret ukur (2,4,8,16…dst) bukan lagi deret hitung (1,2,3,4…dst).

Aku semakin bingung dengan “ waktu”. Dalam IslamAllah SWT bahkan bersumpah dengan Waktu. Waktu juga di ibaratkan sebagai dua mata pedang, dimana jika tidak kau gunakan sebaik mungkin dia akan berbalik menusukmu. Aristoteles pernah menyebutkan bahwa waktu adalah fondasi universal untuk mencari pengalaman.waktusecara garis besar ada tiga: masa lalu, sekarang dan masa depan. Waktu yang riil adalah sekarang, namun pikiran kita sadar akan waktu yang lampau dan mampu mengantisipasi waktu yang akan datang.

Waktu itu relatif.Hal ini juga diungkapkan Al-Kindi bahwa waktu hanya eksis dengan gerakan.Gerakan kita ibaratkan aktivitas kita, semakin banyak gerakan maka semakin eksis. Sebaliknya jika tidak tidak melakukan aktivitas maka waktu menjadi tidak ada ( eksis). Itu sebabnya 14 hari yang penuh dengan kegiatan menjadi terasa begitu cepat dan singkat.

Dari Barak ke Barak

“Sutoyo “ adalah nama barak yang aku dapat sebagai tempat tidur selama di Pusdik Bekang. Awalnya nama –nama barak itu biasa-biasa saja, namun setelah saya cermati ada hal yang menarik dari nama-nama barak di Bekang. Ya nama-nama barak tersebut diambil dari nama-nama korban G30S PKI.Nama-nama seperti Tendean, Sutoyo, A.Yani, S.Parman, Haryono dan Nasution ( selamat) adalah korban/sasaran dari tragedi besar di Negri ini, terlepas entah fakta apa yang sebenarnya terjadi. Sesungguhnya saya ingin melewati malam 30 September 2015 di Pusdik Bekang, apa daya kegiatan kami berakhir sehari sebelum tanggal 30 S. Namun yang malah menjadi menarik adalah kami diterjunkan di lokasi penempatan untuk pertama kalinya tanggal 30 September dan saya pribadi menamainya G30 SP3 ( Gerakan 30 September Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan).

Saya salah satu dari sekian peserta yang sempat mengutuk “ kenapa kami harus mendapatkan pendidikan semi militer seperti ini?” . dengan diiringi pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya. Apa gunanya buat kami? , apa nanti akan berguna di Desa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bernada menolak.

Sebelum pembekalan saya sudah membayangkan bahwa saya nantinya akan mengalami karantina seperti yang ada dalam cerita-cerita. Atau lebih parah lagi saya membayangkan apa yang pernah dia alami oleh Viktor Frankl yang saat itu menjadi tahanan tentara Nazi. Ya tidur di dalam barak dan seperangkat atruran-aturan yang begitu ketat. Bagi pelanggar aturan hanya ada satu kata yaitu “ hukuman”.

Saat kujumpai tempat tidur kami adalah ranjang dengan ukuran 2 x 0,5 m, tanpa kasur ataupun busa, hanya kain yang dipentang sisi-sisinya. Tentu selama 14 hari adalah waktu-waktu yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan.Saya akan mecoba menginventaris kesulitandan penderitaan yang kami alami disana : waktu untuk sanitasi terbatas, darurat kurang air, air kotor, darurat gayung, darurat ember, kamar mandi beraroma berak dan kencing, tidak bisa menikmati makanan dengan nikmat, tidak ada istirahat siang, tempat tidur barak kotor, bangun pagi jam 3,senam pagi dan dingin yang menyiksa, waktu istirahat kurang, harus banyak berlari dan berteriak, hampir semua peserta mengalami batuk dan pilek, bentakan komandan, …( dan silahkan ditambahi secukupnya).

Saya pernah memberikan kata motivasi di depan kelas. Salah satu kata yang saya kutip adalah dari tokoh Psikologi Eksistensialis yaitu Frankl, yang menyebutkan bahwa salah satu cara menemukan makna hidup adalah dengan mengalami penderitaan demi penderitaan. Sungguh ketika kita mengalami kesulitan selalu saja ada hikmah yang dapat kita ambil.Atau kita menemukan hal-hal kecil namun memiliki makna yang mendalam.Semakin banyak masalah yang kita terima maka semakin banyak hikmah yang kita petik.Hikmah selalu kita dapatkan dari kegagalan bukan dari kesuksesan juga bukan dari keberhasilan.

“Kamu tidak perlu menderita untuk belajar. Tetapi jika kamu tidak belajar dari penderitaan yang tidak bisa kamu kendalikan, hidupmu menjadi sungguh-sungguh tidak bermakna.” (Victor E Frankl)

(berlanjutttt………)

Panggih Priyo S, S.Psi

Peserta PSP-3 angkatan ke-25

D.I. Yogyakarta

Kelas Semua Anak Bangsa (Refleksi perjalanan Kelas 15 Pusdikbekang)

Kelas Para Juara

“Kelas para juara” kata-kata yang slalu terucap oleh sang motivator di kelas kami. Istilah kelas para juara mengingatkan saya pada konsep “ Sekolah Para Juara” dari kak Seto Mulyadi. Ada sepenggal cerita dari Kak Seto yang menggambarkan Sekolah Para Juara.

sebuah cerita ada sekolah di dalam hutan bagi para binatang. Sebut saja Kelinci, Parkit, Harimau dan Ikan Koi. Pada awalnya sekolah tersebut memberikan mata pelajaran yang sama kepada seluruh hewan. Suatu hari pelajaran yang diberikan adalah ketrampilan untuk bisa terbang. Tentunya ini sangat mudah bagi si Parkit namun apa yang terjadi pada binatang yang lain? Kelinci yang ahli melompat mencoba berkali-kali terbamg dan terjatuh hingga kakinya patah dan kelinci tidak bisa melompat-lompat selincah sedia kala.Bagi harimau itu membuatya kaki dan seluruh tubuhnya terluka parah dan Harimau tidak dapat berlari kencang.Si Ikan Koi pun mempertaruhkan nyawanya terbang di daratan sampai sisik terkelupas dan sirip terluka.Apakah pendidikan yang benar seperti ini?Ingin memberikan ketrampilan yang baru namun malah membunuh bakat alaminya.

kemudian sekolah tersebut merubah sitem belajarnya. Semua binatang yang ada tidak diajarkan pada satu ketrampilan yang sama namun diajarkan ketrampilan sesuai bakat dan potensi yang dimiliki. Tentu potensi yang dimiliki tiap binatang kan berbeda. Parkit yang keahlianya terbang menjadi lebih ahli dalam terbang, begitu juga dengan Harimau yang semakin kencang berlari, ikan Koi yang semakin ahli berenang dan kelinci yang lihai melompat.Begitulah pendidikan, mengembangkan potensi pada tiap-tipa individu.Dengan metode seperti ini setiap Binatang adalah juara di Sekolah para juara.”

Setidaknya cerita di atas mirip dengan apa yang saya alami di kelas saya. Hal ini mempunyai landasan dasar bahwa setiap manusia terlahir dan berkembang dengan potensi yang berbeda satu sama lain. Setiap individu itu unik dengan keunikannya sendiri. Oleh Gardner di istilahkan sebagai Multiple intelegance ( kecerdasan Majemuk). Howard Gardner mengungkapkan bahwa manusia memiliki bermacam kecerdasan, dan setiap Individu memiliki satu kecerdasan yang menonjol.Dalam bukunya Ivan Illich “ The De Schooling Society” mencetuskan perlunya pendidikan emansipatoris , karena pendidikan yang ada selama ini lebih banyak menjajah daripada membebaskan. Pendidikan emansipatoris sendiri adalah model pendidikan yang peduli akan potensi peserta didik bukan hanya mencipta tenaga kerja.

Ya kembali lagi bahwa kelas kami adalah kelas para juara hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran kami di kelas. Guru kami tidak menuntut dan mengarahkan kami pada satu ketrampilan yang sama. Namun mengarahkan kami terhadap potensi yang kami miliki lalu mengembangkannya menjadi niali lebih bagi diri kami.Kebetulan kelas kami memang amat beragam dari yang irit bicara sampai boros bicara, dari yang pemalu sampai yang gak tau malu, dari yang bercanda sampa yang super serius.Bisa saya katakan semua karakter manusia ada disini.Bagi saya pribadi kelas ini adalah laboratorium perilaku bahkan terkadang saya melihat kelas ini sebagai panggung treatrikal darama. Kelas yang Luarrr Biasaaa Manttaab!!

Bisa dilihat bagaimana guru kami mengarahkan kami untuk mengembangkan potensi yang dimiliki individu. Ada dari kami yang jago Game Ice breaking kemudian didorong untuk mengembangkan bakat itu, yang hobi humor dan berselera humor diarahkan juga untuk mengembangkan, yang jago orator juga selalu didukung, yang mempunyai suara unik dan emas juga, yang memiliki karakter unik dan khas, yang mempunyai falsafah hidup yang tinggi, yang mempunyai visi hidup yang jelas, yang mempunyai kebijaksanaan tingkat dewa, yang ahli diplomasi loby, yang berkemauan belajar kuat, yang tenang laksana air tergenang, yang berani kritis tak terbatas, dan saya yakin sampai yang tak terlihatpun, guru itu percaya mereka mempunyai potensi besar. Mereka mempunyai senjata rahasia yang akan dikeluarkan pada saat-saat dibutuhkan senjata itu. Mahdzab Humanisme yang di wakili oleh Maslow menyebutkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki dalam dirinya.Atau dalam bahasa Nietzsche adalah menajdi seorang “Superman”.

Kelas apresiatif

Selain disebut sebut kelas juara oleh motivator saya pribadi juga memiliki istilah lain untuk kelas ini yaitu kelas Apresiatif. Pendekatan Apresiatif memang 10 tahun terakhir ini mulai banyak dikembangkan dalam organisasi-organisasi untuk membangun kinerja tim. Apresiatif adalah perilaku menghargai sesama manusia sebagai seorang yang patut dihargai.Pendekatan ini bisa dikatakan pendekatan yang paling Humanis.

Dapat diamati dalam proses kami belajar sang guru selalu memberikan Apresiasi kepada kami misal kata-kata apresiatif yang sering diucapkan adalah “ anda luar biasa”, “ mantab sekali”, “ anda calon orang sukses” “ anda calon guru bangsa” dan “ Ngeri”. Kata-kata itu bukan sekedar kata-kata pujian biasa namun dibalik kata-kata itu terdapat kekuatan yang akan membangkitkan motivasi orang yang menerimanya. Tentu kata-kata positif akan memiliki efek positif pula, misal kata-kata yang keluar adalah kata-kata negatif tentu yang terjadi adalah hal-hal dan perilaku negatif. Hal ini biasa disebut sebgai hukum resonansi.

Selain kata-kata apresiatif motivator juga menunjukan bagaimana menghargai dan memberi penghargaan pada orang lain. Misalnya ketika ada peserta yang menjawab pertanyaan dengan kurang tepat, bukan cacian yang akan diterima, dan tidak semerta-merta langsung menyalahkan namun malah dengan pujian. Kata-kata “ luar biasa, ada yang berbeda? Ada yang mau menambahkan” kata-kata ini dipilih untuk menunjukan bahwa jawabanmu kurang tepat.

Contoh yang jelas dari perilaku apresiatif ini adalah ketika LO kurang berfungsi sebagaimana mestinya.Bukanlah kritikan yang keras yang keluar namun malah sebaliknya.Bentuk pujian dan tepuk tangan. Tentu di kelas akan sering terdengar “ Luar biasa LO kita ini, beri tepuk tangan untuk LO” atau “ LO dimana LO”. Pujian atau kata apresiatif juga dapat digunakan sebagai pendekatan mengkritik dengan tidak menyakiti.

Pendekatan arpresiatif adalah pendekatan yang berfokus pada hal-hal positif pada diri seseorang, bukan berfokus pada kritik-kritik yang mencari-cari kesalahan dan kelemahan. Inti dari pendekatan apresiatif adalah setiap individu memiliki peran masing-masing.Sekecil apapun peran individu itu dalam kelompok hukumnya wajib kita hargai. Kalu di kelas mungkin ada pribadi yang pendiam dan tertutup, bukan berarti dia tidak memiliki peran di Kelas ,untuk itu harus kita hargai. Dengan berfokus pada hal-hal positif pendekatan apresiatif Inquiry mampu menumbuhkan motivasi pada individu dan mendorong menjadi lebih baik. Yang semula peran dalam kelompok hanya sedikit dapat bertambah, semula pemalu jadi lebih percaya diri, yang awalnya takut jadi berani dan yang semula sering mengalami kegagalan akan mulai belajar dan memperoleh kemenangan-kemenangan kecil. Inti dari pendekatan AI (Apresiatif Inquiry) adalah kempuan melepaskan dari hal-hal negatif dan mengubah cara pandang menjadi positif alias apresiatif.

Maka tidak segan saya menyebut kelas ini kelas yang Humanis ditengah arus dehumanisasi. Semua akan merasa dimanusiakan sebagai manusia, merasa dihargai sebagi sesuatu yang berharga, merasa dicintai sebagi sesuatu yang penuh cinta. Kelas lima belas kelasnya manusia.

Panggih Priyo S, S.Psi

Peserta PSP-3 angkatan ke-25

D.I. Yogyakarta